Senin, 30 Oktober 2017

Pengalaman Umrah Part IV - Sempat Ragu

Tags




Pengalaman Umrah Part IV - Sempat Ragu
Salah satu hal yang berbeda di masjidil haram. Adalah kita tak akan pernah menemukan orang melaksanakan sholat sunnah rawatib di dekat Ka'bah.

Karena pelaksanaan sholat sunnah digantikan dengan thawaf. Setelah selesai sholat subuh itu, tepatnya ketika setelah salam yang pertama.

Aku terkejut juga melihat jemaah kiri dan kanan langsung berdiri dan dan langsung thawaf. Ternyata memang seperti itu pula kekhasan masjidil haram ini.

Aku bersama Ilyas dan Bang Dayat pun segera keluar dari barisan thawaf menuju tempat sa'i. Karena rukun haji yang ketiga ini belum sempurna kami laksanakan.

Kami pun kemudian melengkapinya menjadi 7 putaran. Setelah sa'i sempurna tujuh putaran, lanjut ke rukun umrah yang keempat adalah tahallul.

Tahalul artinya bercukur atau memotong rambut. Syarat minimal tahallul ini adalah 3 helai rambut.

Sedangkan yang terbaik adalah mencukur semuanya. Sesama jemaah umrah biasanya secara suka rela (tanpa dibayar) membantu temannya untuk bertahallul.

Namun diantara sekian banyaknya mereka. Ada pula yang nakal ingin mengambil keuntungan dari rukun tahallul ini.

Salah satu pengalaman yang membuat hati geram, ketika melihat "abu jahal - abu jahal" yang ada di Masjidil Haram ini menjalankan aksinya.

Mereka biasanya tegak berdiri di bukit marwa dan memegang gunting. Sambil mengisyaratkan dengan tangan mereka siapa yang ingin bertahalul mari sini.

Jemaah-jemaah tertipu yang mengira ini gratis pun mendekati mereka dan menyerahkan kepalanya untuk di "colak-colakkan" orang-orang ini.

Setelah selesai mereka pun meminta bayarannya, 10 rial. Apa ?? 10 rial ???

Itu hampir sama dengan harga pangkas di barber shop gaul di Pekanbaru. Hampir semua jemaah yang bertahalul dengan mereka-mereka ini terkejut ketika mereka meminta bayarannya.

Tapi tetap dibayarnya juga. Aku bahkan sempat melihat seorang remaja Indonesia yang terlihat khawatir dari raut wajahnya.

Karena sadar setelah ditahalulkan sama mereka ternyata dia tak membawa uang sedikit pun. Kasihan.... kudekati dia dan aku bisikkan, "udah, langsung pergi aja.

Penipu semua mereka ini. Mana ada tahalul bayar". Setelah mendengar itu, air mukanya pun seketika berubah bahagia.

Ini aku kasitahu ciri-ciri mereka, biasanya orang-orang ini tidak memakai kain ihram. Makanya kusarankan jika kita ingin tahalul setelah sa'i.

Maka mintalah kepada teman-teman kelompok kita yang kita kenali.

Atau kalaupun seandainya terpisah dari kelompok, maka mintalah kepada orang-orang yang juga melaksanakan umrah ditandai dengan mereka yang memakai kain ihram.

Bukan pada "abu jahal-abu jahal" masjidil haram ini. Sedangkan kami, Alhamdulillah dibantu tahalul oleh jemaah dari Malaysia.

Tahalul selesai, maka selesai lah pelaksanaan ibadah umrah. Eh tunggu dulu, di cerita sebelumnya aku sebutkan kalau rukun umrah itu ada 5.

Tahalul baru rukun keempat, kok udah selesai ? Iya, memang udah selesai. Karena rukun umroh yang kelima itu adalah tertib.

Artinya pelaksanaan kesemua rukun-rukun itu sesuai dengan syariat dan ketentuan serta urutannya. Alhamdulillah, akhirnya selesai umrah wajibku.

Senangnya hati ini hampir sama seperti berbuka puasa, bahkan lebih hebat lagi. Karena ibadah-ibadah seperti ini sangat jarang sekali bisa untuk dilakukan.

Sekitar pukul 8 kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Dalam hati aku berucap Alhamdulillah lagi, akhirnya nanti bisa istirahat juga.

Sampai di hotel, kami pun duduk sebentar dekat lobinya. Tak lama kemudian, tibalah bapak yang kemarin mengajak aku untuk pasang kain ihram itu.

Dia kemudian bercerita, "Alhamdulillah, tadi bapak dapat dah sholat di Hijr Ismail". MasyaAllah kataku.

Bapak ini meski sudah cukup berumur tapi semangat beribadahnya mengalahkan kami anak muda. Hijr Ismail adalah salah satu tempat mustajab di sisi Ka'bah yang berbentuk setengah lingkaran.

Kalian tahu, masuk ke Hijr Ismail itu bukanlah hal yang mudah. Kita harus siap berdesak-desakan dengan ramainya jemaah yang ingin masuk kesana.

Namun pintu masuk dan keluar cuma satu serta tempat yang tersedia sangat sedikit sekali. Semenjak mendengar itu aku berdoa dalam hati, Ya Allah sampaikanlah aku ke hijr ismail.

Setelah cerita-cerita sebentar kamipun kemudian sarapan di ruangan makan hotel. Dan kemudian langsung kekamar dan istirahat.

Semenjak awal keberangkatan sudah selalu diingatkan oleh muthowwif. Usahakan setiap sholat fardu kita sholat di Masjidil Haram.

Dan usahakan pula berangkat 2 jam sebelum waktu sholat masuk, karena jemaah yang umrah desember ini sangat ramai.

Itu artinya kami hanya bisa beristirahat satu setengah sampai dua jam saja di hotel. Sekitar pukul setengah sebelas kamipun bersiap-siap untuk melaksanakan sholat zuhur.

Pukul 11 kurang kamipun berangkat kembali ke mesjidil haram. Betul apa yang disampaikan muthowif.

Kalau aja berangkat untuk sholat ini tidak dari sejam atau dua jam sebelum waktunya masuk. Maka alamatlah kita akan sholat di aspal-aspal dijalan menuju Masjidil Haram.

Karena memang jemaahnya sangat-sangat ramai sekali. MasyaAllah. Luarbiasa kebesaran Allah. Aku kemudian teringat akan cerita salah seorang guru. Ia mengatakan,

"Dulu, ketika Allah perintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyeru kepada manusia agar datang ke Ka'bah beribadah kepada Allah,

rasa rasanya tidak masuk di logika Nabi Ibrahim AS bagaimana cara mengajak dan mendatangkan orang ke tempat yang sangat panas, tandus, padang pasir, hampir tak ada tanda-tanda kehidupan ini.

Tapi Allah katakan kepada Nabi ibrahim bahwa tugasmu adalah hanya menyeru saja, mengajak dan memerintahkan saja.

Mengenai bagaimana caranya mendatangkan mereka, itu urusan Aku kata Allah." Subhanallah, Sungguh Allah itu Maha benar.

Aku bisa melihat sendiri kenyataannya dengan mata kepalaku sendiri bahwa hari ini umat ini berbondong-bondong menuju tempat ini.

Tempat yang dulu bahkan level sekelas Nabi Ibrahim AS pun sempat ragu akan ada yang mau mendatanginya.

Kebesaran Allah selalu begitu, melewati batas-batas kemampuan akal manusia.

Bersambung~

*Sumber: Facebook Azhar Saputra
Baca Juga :