Senin, 30 Oktober 2017

Pengalaman Umrah Part V - Indahnya Bersaudara

Tags








Pengalaman Umrah Part V - Indahnya Bersaudara
Menjadi hal yang sangat lumrah bagi jemaah umrah untuk hadir di Masjidil Haram 2 atau 1 jam sebelum masuk waktu-waktu sholat fardhu.

Memang sih tidak wajib.

Akan tetapi jika enggan untuk melakukan itu maka bersiap-siaplah menanggung resiko tidak dapat sholat di dalam mesjid.

Bahkan harus siap menanggung resiko sholat di aspal jalan menuju Masjidil Haram.

Meski demikian semangat beribadah di tanah suci memang luar biasa.

Iman saat itu seperti di charge dengan kekuatan listrik yang sangat besar.

On fire terus.

Membakar rasa letih, malas dan sejenisnya.

Aku akan melompat membahas kegiatan ini langsung pada hari kedua di Masjidil Haram.

Karena meski suasana beribadah yang dirasakan makin hari makin kental.

Namun aktifitas yang dilakukan hampir sama.

Hadir 2 atau 1 jam sebelum waktu sholat fardhu masuk, kemudian dzikir dan baca Qur'an sambil menunggu waktu sholat masuk.

Sholat berjamaah ketika masuk waktu sholat, jika telah selesai maka kembali ke hotel untuk makan dan istirahat.

Dan berulang lagi begitu seterusnya.

Tapi ada yang beda di hari kedua.

Hari ini adalah hari yang bersejarah bagiku.

Karena dapat menunaikan sholat dan bermunajat kepada Allah di salah satu tempat mustajab di sisi Ka'bah yakni Hijr Ismail.

Lagi-lagi ini berkat kekuatan sebuah doa.

Memang semenjak bapak itu menceritakan kepada kami, aku terus berdoa pada hari itu.

Ya Allah sampaikanlah aku di Hijr Ismail.

Izinkan aku sholat dan berdoa di Hijr Ismail.

Dan jawabannya hari itu memang kontan.

Meski harus mujahadah dulu untuk bisa masuk kesana, akhirnya Allah izinkan juga.
Alhamdulillah

Padahal aku sendiri sempat khawatir ketika memasuki tempat mulia itu.

Orang-orang berdesakan kadang tanpa memikirkan orang disekitarnya.

Tapi Allah adalah Maha Penjaga yang paling baik.

Entah dari mana asalnya, seorang pria ikut membantu menjagaku agar tidak dilalui oleh orang-orang ketika sedang sholat di tempat itu.

Sepertinya pria ini orang arab kalau dilihat dari hidungnya.

Selesai aku sholat, gantian pula aku yang menjaganya ketika sholat.

MasyaAllah.

Begitulah indahnya persaudaraan Umat Islam.

Padahal tak pernah saling kenal, tapi saling menjaga.

Tak sempat berkenalan di tempat-tempat penuh manusia seperti itu, tapi bagaimanapun hati telah terhubung.

Semoga Allah balas kebaikannya.

Selesai sholat, aku dan Ilyas pun kemudian merapat ke dinding Ka'bah.

Disanalah salah satu tempat terbaik mencurahkan segala doa.

Subhanallah, Tumpah ruah air mataku.

Mengalir begitu saja dengan derasnya, aku bertanya-tanya dalam hati.

Entah berapa banyak air mata manusia yang keluar di tempat ini.

Sekali lagi, memang ini adalah nikmat dari Allah SWT.

Nikmatnya merasa hamba pada Nya.

Nikmatnya bermunajat serasa tiada penghalang.

Alhamdulillah.

Di atas tadi adalah foto ketika ziarah di kaki Gunung Tsur.

Tepat di belakang ku, gunung yang sedikit di tutupi awan itu adalah gunung tsur.

Dan Alhamdulillah lagi, aku pun sempat sampai di puncaknya.

Mendaki hingga puncak yang biasa ditempuh orang-orang selama 3 jam, kami menempuhnya selama kurang lebih 1,5 jam.

Bagaimana kisahnya ?

Nantikan di part selanjutnya. Wkwkwkw.

Bersambung

*Sumber: Facebook Azhar Saputra
Baca Juga :