Sabtu, 05 Agustus 2017

Definisi, Mekanisme Kerja, Kelompok dan Gambar Obat Anti Hipertensi







Obat hipertensi adalah senyawa yang digunakan untuk pengobatan hipertensi, suatu kondisi dimana tekanan sistol lebih besar dari 160 mmHg atau tekanan diastole lebih besar dari 95 mmHg.

Klasifikasi tekanan darah orang dewasa :

Klasifikasi tekanan darah orang dewasa

Ada 2 tipe hipertensi yaitu hipertensi esensial (primer) dan hipertensi sekunder. Penjelasan lebih lanjut sebagai berikut :

1. Hipertensi esensial (primer)

Penderita hipertensi ini ±60% dapat berkembang menjadi penyakit jantung koroner, payah jantung kongestif, strok dan payah ginjal.

Kemungkinan penyebab hipertensi esensial antara lain adalah adanya gangguan pada etiologi saraf, hormon, elektrolit, dinding pembuluh darah dan faktor genetik.

Karakteristiknya adalah pada tekanan diastole.

Pengontrolan hipertensi esensial dapat dilakukan dengan pencapaian berat badan yang ideal, diet dengan mengurangi konsumsi garam, alkohol, dan lemak, menghindari merokok, olahraga dan modifikasi behavior.

2. Hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder dibagi menjadi 4 kelompok yaitu:
  • Hipertensi renal adalah penyebab umum dari hipertensi sekunder.
Renin, suatu enzim proteolitik ginjal, sesudah dikeluarkan dari tempat penyimpanan bekerja pada globumin darah yaitu angiotensinogen, menghasilkan angiotensin I.

Suatu dekapeptida yang tidak mempunyai efek presor dan oleh angiostensin converting enzyme (ACE) diubah menjadi angiotensin II, suatu oktapeptida dengan efek vasopresor yang kuat.

Peredaran angiotensin II menyebabkan secara langsung kontriksi arteriola, menghasilkan secara cepat kenaikan tekanan darah.

Angiotensin II melepaskan aspartat menghasilkan heptapeptida angiotensin III, yang dapat merangsang pengeluaran aldosterone, suatu hormon yang menyebabkan retensi Na, sehingga cairan luar sel meningkat dan terjadi kenaikan tekanan darah.
  • Hipertensi neurogenik disebabkan oleh kerusakan pusat vasomotor sehingga terjadi peningkatan tekanan cairan serebrospinal.
  • Hipertensi endokrin disebabkan oleh kerusakan kelenjar endokrin
  • Hipertensi kardiovaskular disebabkan oleh penyempitan aorta dan pengobatan biasanya dengan pembedahan.
Obat antihipertensi secara garis besar dibagi menjadi 5 kelompok sebagai berikut :

1. Senyawa penekan simpatetik
  • Senyawa dengan efek sentral, contoh: Klonidin HCl, guanfasin HCl dan 1-α-metildopa
  • Senyawa dengan efek sentral dan perifer, contoh: Serbuk Rauwolfia serpentine, reserpine dan reskinamin
  • Senyawa pemblok transmisi saraf efektor, contoh: Bretilium tosilat, debrisokuin sulfat dan guanetidin monosulfat
  • Senyawa pemblok β-adrenergik, contoh: Asebutolol, atenolol, metoprolol, tartrat, nadolol, oksprenolol dan pindolol
  • Senyawa pemblok α-adrenergik, contoh: Doksazosin mesilat, prazosin HCl, terazosin dan bunazosin HCl.
  • Senyawa penghambat monoamine oksidae, contoh: Pargilin HCl

pargilin HCl

2. Vasodilator dengan efek langsung:
  • Vasodilator arteri, contoh: Hidralazin, dihidralazinsulfat dan minoksidil
  • Vasodilator vena dan arteriola, contoh: natrium nitroprusid 
3. Antagonis angiotensin (penghambat angiotensin-converting enzyme = penghambat ACE), contoh: kaptopril, enalapril maleat, lisinopril dihidrat.

4. Antagonis kalsium selektif, contoh: Diltiazem, felodipin, nikardipin, nifedipin, nimodipin dan verapamil.

5. Diuretika, contoh : Hidroklorotiazid, bendroflumetiazid, politiazid, klortalidon, butizid, kopamid, indapamid, dan xipamid.

Berdasarkan mekanisme kerjanya obat anti hipertensi dibagi menjadi tiga kelompok yaitu obat antihipertensi yang mekanisme kerjanya pada saraf, pada vascular dan humoral.

B. Anti Hipertensi yang Mekanisme Kerjanya Pada Saraf

Obat yang mekanisme kerjanya pada saraf dibagi menjadi 4 kelompok yaitu:

1. Senyawa dengan efek sentral

Senyawa dengan efek sentral bekerja sebagai anti hipertensi dengan merangsang pusat adrenoseptor pada pusat vasomotor medulla dan menyebabkan hambatan tonus simpatetik sehingga terjadi penurunan tekanan darah.

Contoh: Klonidin HCl, guanfasin HCl dan 1-α-metildopa

Struktur obat antihipertensi dengan efek sentral sebagai berikut:

klonidin HCl, guanfasin HCl dan 1-α-metildopa

2. Senyawa dengan efek sentral dan perifer

Senyawa dengan efek sentral dan perifer, terutama bekerja dengan cara mengosongkan katekolamin, norepinefrin dan serotonin dari tempat penyimpanan pada saraf perifer dan pusat simpatetik.

Contoh : Reserpin, serbuk Rauwolfia dan reskinamin

Reserpin, dapat menghambat pengangkutan aktif ketokolamin dan lain-lain amin neurohormon ke jaringan penyimpanan, dan amin-amin tersebut secara cepat diinaktikan oleh enzim monoamine oksidase.

Akibatnya secara cepat terjadi pengosongan amin-amin ujung saraf, sehingga tonus simpatetik menurun.

Penurunan tonus ini menyebabkan penurunan tekanan darah, berkurangnya kecepatan jantung dan efek sedasi pada sistem saraf pusat.

reserpin, serbuk Rauwolfia dan reskinamin

reserpin, serbuk Rauwolfia dan reskinamin

3. Senyawa yang memblok transmisi saraf efektor

Senyawa pemblok transmisi saraf efektor bekerja dengan mengosongkan norepinefrin dari tempat penyimpanan perifer, terjadi pemblokan aktivitas adrenergic pada adrenoreseptor buluh darah, yang menghasilkan penurunan tekanan darah. 

Contoh : Bretilium tosilat, debrisokuin sulfat dan guanetidin monosulfat

Bretilium tosilat, debrisokuin sulfat dan guanetidin monosulfat


4. Senyawa penghambat monoamin oksidase

Senyawa penghambat monoamine oksidase efektif untuk menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolic tanpa menimbulkan efek depresi.

Penghambatan enzim monoamine oksidaseakan menurunkan metabolisme katekolamin dalam saraf dan hati, terjadi penimbunan oktopamin, suatu transmitter dengan efek presor yang lebih rendah dibanding norepinefin.

Contoh: Pargilin HCl

Pargilin HCl

C. Anti Hipertensi yang Mekanisme Kerjanya Pada Vaskuler

1. Senyawa Pemblok β-Adrenergik

Mekanisme kerja antihipertensi dari senyawa pemblok β-adrenergik (β-bloker) disebabkan oleh antagonis kompetitif dengan katekolamin pada β-adrenoseptor khas, terjadi pemblokan efek rangsangan β-reseptor sehingga mengurangi daya tahan vascular perifer dan menyebabkan penurunan tekanan darah.

Contoh: Asebutolol, atenolol, metoprolol, nadolol, oksprenolol pindolol

2. Senyawa Pemblok α-Adrenergik

Mekanisme kerja anti hipertensi α-bloker disebabkan oleh antagonis kompetitif dengan katekolamin pada α-adrenoseptor khas, terjadi pemblokan efek rangsangan α-reseptor dan penurunan daya tahan (menimbulkan vasodilatasi) vaskuler perifer, sehingga tekanan darah menurun.

Struktur kimia golongan ini sangat bervariasi, salah satu yang banyak digunakan sebagai anti hipertensi adalah turunan kuinazolin.

Contoh: Doksazosin mesilat, prazosin HCl, terazosin dan bunazosin HCl.

Doksazosin mesilat, prazosin HCl, terazosin dan bunazosin HCl.

3. Vasodilator Arteri

Mekanisme kerja vasodilator arteri adalah secara langsung mengadakan relaksasi otot polos arteriola sehingga terjadi vasodilatasi buluh arteri perifer yang menyebabkan penurunan tekanan darah. 

Contoh: Hidralazin HCl, dihidralazin sulfat dan minoksidil

hidralazin HCl, dihidralazin sulfat dan minoksidil

4. Vasodilator Vena dan Arteriola

Mekanisme kerja vasodilator vena dan arteriola adalah secara langsung mengadakan relaksasi otot polos vena dan arteriola sehingga terjadi vasodilatasi buluh vena dan arteri perifer yang menyebabkan penurunan tekanan darah.

Contoh: Natrium nitroprusid

natrium nitroprusid

5. Antagonis Kalsium Selektif

Antagonis kalsium bekerja secara selektif pada otot polos vascular, yaitu menurunkan tonus otot polos arteriola sehingga terjadi vasodilatasi buluh arteri perifer yang menyebabkan penurunan tekanan darah.

Contoh: Diltiazem, felodipin, nikardipin, nifedipin, nimodipin, verapamil

D. Anti Hipertensi yang Mekanisme Kerjanya Pada Humoral

Mekanisme antihipertensi pada humoral berhubungan dengan kerja obat sebagai antagonis angiotensin.

Renin bekerja pada globumin darah yaitu pada angiotensinogen, menghasilkan angiotensin I, yang oleh Angiotensin Converting Enzyme (ACE) diubah menjadi angiotensin II.

Peredaran angiotensin II menyebabkan secara langsung kontriksi arteriola, menghasilkan secara cepat kenaikan tekanan darah.

Angiotensin II dapat merangsang pengeluaran aldosterone, suatu hormon yang meninggalkan retensi Na, sehingga terjadi peningkatan volume cairan ekstra sel dan menyebabkan kenaikan tekanan darah.

Senyawa antihipertensi yang bekerja pada humoral berdasarkan mekanisme kerjanya dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:

1. Senyawa Penghambat ACE

Senyawa penghambat ACE, seperti kaptopril, enalapril, lisinopril, perindopril, ramipril, kuinapril, benazepril, fosinopril, silazapril, dan delapril merupakan antihipertensi yang kuat dengan efek samping yang relatif ringan, seperti kelesuan, sakit kepala, diare, batuk dan mual.

Kaptopril mengandung gugus SH yang dapat berinteraksi membentuk kelat dengan ion Zn dalam tempat aktif ACE, terjadi hambatan secara kompetitif ACE sehingga peredaran angiotensin II dan kadar aldosteron menurun.

Akibatnya, tidak terjadi vasokonstriksi dan retensi Na, sehingga tekanan darah menurun.

Mekanisme yang lain dari senyawa penghambat ACE adalah menghambat pemecahan bradikinin menjadi fragmen tidak aktif, sehingga kadar bradikinin dalam darah meningkat, menyebabkan vasodilatasi dan penurunan tekanan darah.

Interaksi senyawa penghambat ACE, seperti kaptopril dan lisinopril dengan tempat aktif ACE dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Interaksi senyawa penghambat ACE, seperti kaptopril dan lisinopril

Mekanisme kerja antihipertensi senyawa penghambat ACE dapat dibuat secara skematik seperti di bawah ini:

Mekanisme kerja antihipertensi senyawa penghambat ACE

Hubungan struktur-aktivitas senyawa penghambat ACE

Model tempat aktif pada ACE ditunjukkan oleh adanya:
  • Ion Zn++, yang dapat membentuk kompleks dengan ligan dengan gugus sulhidril (SH) dari kaptopril, gugus karboksi dari enalapril, lisinopril, perindopril, ramipril, delapril, kuinapril, benazepril, imidapril, dan silazapril, sert gugus fosforus dari fosinopril
  • Gugus yang dapat membentuk ikatan hydrogen dengan gugus karbonil.
  • Gugus yang bermuatan positif yang terikat melalui ikatan ion dengan gugus karboksilat yang bermuatan negatif.
Gugus karboksi yang membentuk kompleks dengan Zn++ dapat berupa karboksilat bebas (lisinopril), tetapi pada umumnya dalam bentuk ester etil (enalapril, perindopril, ramipril, delapril, kuinapril, benazepril, imidapril, dan silazapril), untuk memperpanjang masa kerja obat.

Bentuk ester adalah pra obat, dalam tubuh akan terhidrolisis menjadi bentuk asam yang aktif.

Gugus-gugus lain pada umumnya untuk meningkatkan lipofilitas senyawa, sehingga distribusi obat dalam tubuh menjadi lebih baik.

Hubungan struktur-aktivitas senyawa penghambat ACE


2. Senyawa Antagonis Reseptor AT1 Angiotensin II

Kelompok obat ini merupakan obat antihipertensi baru yang bekerja secara selektif sebagai antagonis reseptor AT1 angiotensin II, dengan memblok sumber atau jalur sintesis angiotensin II, menurunkan kadar renin, angiotensin II dan aldosteron dalam plasma, sehingga terjadi penurunan tekanan darah.

Obat tidak bekerja sebagai penghambat ACE, dan tidak mempengaruhi kecepatan kontraksi jantung.

Contoh: Losartan, irbesartan, kandesartan dan valsartan

Struktur obat antihipertensi yang bekerja sebagai antagonis reseptor AT1 angiotensin II ialah sebagai berikut:

Senyawa Antagonis Reseptor AT1 Angiotensin II

*Sumber: Nitya Wita Utama
Baca Juga :

Artikel Terkait