Jumat, 26 Februari 2021

Masih Menjadi Misteri, Apakah Ada Batasan Terakhir Luar Angkasa ?





Photo by Artur Aldyrkhanov on Unsplash - 

Meskipun ini hanya ada di sebuah acara TV, pidato singkat di awal film Star Trek benar-benar berhasil mengalihkan perhatian kita tentang luar angkasa.

Perhatian dan perasaan itulah yang mendorong kecintaan kita pada astronomi dan keinginan kita untuk belajar lebih banyak tentang itu.

Adanya hal yang paling menarik ketika mempelajari alam semesta juga merupakan faktor yang membuat kita frustrasi dan merasa tidak peduli seberapa ahli kita, kita selalu saja mencoba memulai.

Tetapi hal yang paling menarik perhatian bagi beberapa pemikir paling jenius dalam sains dan ahli sejarah adalah luar angkasa itu seperti sebuah ruangan.

Bahkan orang-orang hebat seperti Copernicus dan Einstein yang saat memandang ke luar angkasa, mereka merasa hanyalah seseorang yang berhadapan dengan ketidakterbatasan dari langit.

Sampai saat ini kita juga melihat dan mengamati ruang angkasa itu seperti tidak terbatas.

Namun logikanya, sebuah ruangan harus mempunyai batas tepi yang berarti bagaimanapun itu harus ada ujungnya. 

Tetapi jika pun ada, tidak seorang pun di planet kecil ini yang tahu di mana batas-batas itu berada.

Satu-satunya hal yang membawa kita ke ujung alam semesta adalah kemampuan kita yang terbatas untuk melihat lebih jauh ke ruang angkasa.

Tetapi jika ingin menjangkau perbatasan terakhir ruang angkasa, ini artinya kita harus lebih dari sekadar melihat banyak bintang, planet dan membangun teleskop terbesar yang kita bisa.

Ada beberapa konsep yang mengejutkan kita tentang bagaimana awal ruang angkasa di atas kita terbentuk, bekerja dan itu sedang dipelajari para ahli.

Adanya teori tentang ledakan dahsyat dan alam semesta yang terus mengembang saja sudah cukup membuat pikiran Anda berputar-putar.

Tapi kemudian kita membaca kisah Einstein dan teori relativitasnya untuk mencocokkan seluruh gagasan yang ada sekarang.

Ruang yang tiba-tiba muncul bukan hanya terdiri dari tiga dimensi, tetapi ada dimensi waktu yang mungkin dapat dijelajahi. 

Adanya perputaran balik dan bahkan mungkin perjalanan waktu tampaknya hampir bisa dilakukan. 

Untuk mengetahui perbatasan ruang yaitu dengan melakukan pengembangan pemikiran, penglihatan sekaligus menciptakan alat yang mampu menempuh jarak tersebut.

Steven Hawking menunjukkan kepada kita misteri lubang hitam yang secara tiba-tiba bisa meruntuhkan ruang dan waktu, memelintir benda angkasa yang berubah seperti panci bertekanan tinggi antar galaksi.

Jika bukan karena keajaiban teknologi radio astronomi, ide-ide ini akan tetap menjadi ide. Tetapi kini penelitian sains secara perlahan terus menciptakan teori-teori baru yang penting.

Kecerdasan matematikawan dan pemikir jenius seperti Steven Hawking dan Einstein terus memperluas konsep ruang angkasa kita.

Sekarang kita memiliki teori string yang dapat merevolusi semua yang kita ketahui tentang ruang, waktu, dan bagaimana alam semesta saling terhubung dan berinteraksi.

Para peneliti dunia tidak bisa hanya mengatakan tidak ada batasnya, karena mereka telah menemukan cukup banyak hal.

Bahwasanya penelitian saat ini sendiri adalah perbatasan terakhirnya.

Pesawat Starship Enterprise tidak akan berhenti menjelajah, jadi kami juga tidak bisa berhenti belajar. 

Karena masih ada rintangan teori di depan sana yang telah memiliki nama tetapi belum ada jawaban lengkap dan pasti.

Teori itu disebut juga Teori Medan Terpadu.

Mereka yang ahli memberi tahu kita bahwa ketika Einstein dan Steven Hawking di zaman kita telah memecahkan teori itu, maka teori lain akan jatuh pada tempatnya.

Konsep yang menarik ini tampaknya merupakan alat untuk mendapatkan luasnya ruang dalam konteks yang mungkin termasuk dalam nilai fiksi ilmiah.

Penulis fiksi ilmiah tidak hanya sering menjadi visioner tentang apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi mereka memberi kita gagasan bahwa batas ruang itu sebenarnya dapat diketahui.

Bahwa terlepas dari seberapa besarnya alam semesta dan betapa kecilnya kita, kita dapat menaklukkan perbatasan ini seperti kita telah menaklukkan teori orang lain sebelum kita.

Bagi umat manusia, pengetahuan seperti itu sudah lebih dari cukup memuaskan.

Jika kita bisa mendapatkan visi bahwa kita bisa menaklukkan sesuatu, meskipun itu adalah sesuatu yang begitu masif, begitu luar biasa besar, sepertinya kita mampu melakukan apa saja.

Dan cinta terhadap astronomi, mungkin tidak seperti keilmuan lain di bumi. Karena ilmu ini telah menyatukan umat manusia menuju tujuan bersama untuk mencari tahu isi alam semesta.

Upaya untuk mendirikan stasiun luar angkasa internasional dan bekerja sama dalam menyebarkan jangkauan pandangan kita dari planet ini adalah hal yang baik.

Yang tampaknya bisa menemukan kesamaan antara negara-negara yang sebenarnya tidak dapat hidup sejalan di permukaan bumi ini.

Penelitian bersama antar warga negara mungkin menjadi alasan bahwa kita harus terus mendukung astronomi secara lokal dan program luar angkasa secara nasional.

Dan ini adalah sesuatu yang tampaknya membawa perdamaian dunia daripada terus memproduksi alat perang dan membuat kita menjadi orang yang lebih baik tanpa perselisihan.

Tetapi lebih dari itu, para peneliti berfikir seolah-olah untuk itulah kita diciptakan. Yaitu takdir untuk menjangkau bintang-bintang dan mempertahankan stabilitas kehidupan di bumi.

Jika demikian, maka cinta kita pada astronomi lebih dari sekedar hobi dan itu adalah sebuah panggilan.
Baca Juga :