Rabu, 11 Oktober 2017

Cerpen Nasehat - Bayu yang Mendapatkan Cintanya Bidadari

Tags




Mendapatkan cintanya bidadari
By: Kiki
Cerpen Nasehat - Bayu yang Mendapatkan Cintanya Bidadari
Pagi ini mentari bersinar dengan cerahnya. Seakan ingin mengeluarkan seluruh cahayanya yang telah tersimpan beberapa hari. Karena beberapa hari lalu hanya didominasi oleh mendung dan rintik hujan.

Terlihat seorang ikhwan bernama Bayu dengan baju koko berwarna putih duduk melipat kedua kakinya di sebuah ruangan sekre LDK.

Yang berukuran cukup luas dengan beralaskan karpet hijau tua, yang kelihatannya sangat nyaman. Kedua telapak tangannya menggenggam sebuah buku karangan CLASH (benturan aktivis).

Dimana didalamya terdapat banyak jenis penyakit akut para aktivis. Sesekali dilihatnya arloji yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.

Raut wajah nya cemas, seperti ada yang sedang ditunggu. Selama 45 menit sudah Bayu duduk disekre.

Kemudian pintu sekre terbuka bersama dengan ucapan salam dari beberapa ikhwan yang datang.

“Assalamualaikum.. Afwan kami telat” kata salah seorang ikhwan sambil menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.

“Waalaikumsalam…yasudah tak mengapa” sahut Bayu dengan tegas.

Rupanya sedari tadi Bayu sedang menunggu rekan-rekan LDK nya dan akan mengadakan rapat dengan anggotanya.

Kebetulan ini kali pertama LDK yang dipimpin oleh Bayu akan mengadakan sebuah agenda. Bayu sendiri baru sebulan yang lalu terpilih menjadi ketua.

Dari balik hijab pembatas salah satu dari beberapa akhwat yang sudah berkumpul untuk mengikuti rapat tiba-tiba unjuk bicara.

“Afwan.. ukhty Nahla ga bisa hadir, sebab Ustadzah Sofi mengutusnya ke desa terpencil untuk menyampaikan dakwah dan mengajar anak-anak mengaji..” tutur nya.

“Ohh.. iya, tak mengapa..” sahut Bayu, namun ada sesuatu yang sedang ia tutupi. Entah mengapa setiap kali mendengar nama itu badan dan hati Bayu seperti bergetar.

Apalagi mendengar akhwat bernama Nahla Azahra tersebut rela diberi amanah berat demi mensyiarkan Agama yang mereka cintai itu.

Itulah yang membuat Bayu menjadi kagum. “Astaghfirullah…” ucap Bayu pelan karena diam-diam telah memikirkan akhwat itu.

“Kenapa akh..?” Tanya seorang ikhwan yang duduk bersebelahan dengannya. “Ahh.. enggak. Ga papa..” jawab Bayu gugup.

Waktu terus saja berlalu, sudah setahun penuh Bayu berkecimpung didalam indahnya berjuang dijalan Allah.

Serta menghabiskan masa kepemimpinannya di dalam dunia dakwah kampus. Kini Bayu telah menjadi pensehat lembaga dakwah kampus yang pernah ia pimpin itu.

Kuliahnya pun telah selesai dengam memperoleh nilai cumlude. Namun semua prestasi itu belum cukup memuaskan perjuangan Bayu.

Ada hal yang masih mengganjal hatinya, begitu juga dengan abi dan uminya dikampung.

Setiap kali mereka menelpon pertanyaan yang mereka lontar kan selalu saja sama, kapan Bayu akan menikah ?

Kapan Bayu akan melengkapi separuh Diennya ? Kapan Bayu akan mendapatkan bidadari ? “Nak.. umi dan abi ini sudah tua, umur mu juga semakin hari semakin tua.. lekaslah kamu menikah..”

Pinta uminya, namum Bayu hanya mampu berkata bahwa “Allah belum memberikannya padaku mi, doakan saja aku segera mendapatkan bidadariku”

***

Sang surya kembali menapaki ranumnya pagi.

Dimana kala itu Bayu sedang bersiap hendak menghadiri Dauroh yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Kampus.

Bukan sebagai ketua umum LDK, atau ketua pelaksana apalagi sebagai panitia. Namun kehadiran Bayu sebagai tamu undangan sekaligus penasehat LDK itu sendiri.

Walaupun Hari minggu yang biasanya digunakan oleh anak-anak hingga orang tua untuk berlibur. Bersama teman, adik, kakak, bahkan keluarga mereka mengunjungi tempat-tempat wisata dikota itu.

Namun tidak demikian bagi seorang aktivis dakwah yang haus akan ilmu agama. Bayu tetap singgah ketaman-taman syurga untuk berburu ilmu.

Usai bersiap, Bayupun meluncurkan beat putihnya dengan ditemani alunan nasyid favorit dari ponselnya.

Usai melakukan sholat zuhur, Bayu tidak langsung pulang. Ia masih ingin berlama-lama bersama dengan para ikhwan, adik-adik aktivis LDK.

Dipojok teras masjid terlihat para ikhwan berkumpul, bercengkrama dan bersenda gurau. Topik pembicaraan mereka tak lain hanya seputar dakwah dan jihad.

Karena Bayu sendiri ingin sekali menyusul rekannya yang telah syahid di Palestina melawan kafir penjajah.

Tapi sayang..kesempatan semacam itu masih belum ia dapatkan. Tiba-tiba deringan ponsel dari saku celana Bayu memecah keakraban ukhuwah mereka.

Umi, nama itu memenuhi monitor kecil ponselnya, Bayu pun segera menjauh dari kumpulan jamaah dan menjawab panggilan uminya.

“Assalamualaikum..” Bayu mulai membuka percakapan dengan salam…

“Waalaikumsalam nak, ini umi. Ada yg ingin umi sampaikan padamu..” sahut suara lembut dari seberang sana.

“Apa yg ingin umi sampaikan?” Tanya Bayu penasaran. “Umi sudah menemukan calon pendamping buat kamu nak, dia putri sahabat abi mu, InshaaAllah anaknya baik, sholeha, santun.

Dan InshaaAllah cantik, dia juga sedang kuliah ditempat yang sama dengan mu, namanya Zahra. Ibu harap kamu mau meminangnya..” tutur umi nya panjang lebar..

Mendengar penjelasan itu, Bayu hanya terdiam dan tak mampu menjawab walau sekata pun. “Haloo nak….” Sapa umi heran, kenapa anaknya itu hanya diam saja.

“I.iyaa mi, Mmmm inshaaAllah mi.. Bayu akan istikharah dulu” jawab Bayu singkat. Usai melaksanakan sholat istikharah, Bayu terbaring diatas sajadahnya sambil memikirkan tawaran umi nya.

Hingga ia terlelap dan kemudian ia bermimpi, didalam mimpi itu ia menjadi pengantin, namun pengantinnya berbeda.

Ia berjalan jauh, sejauh mata memandang dan semakin ia berjalan semakin nyata tercium semerbak harum kasturi.

Entah berapa lama ia tertidur menikmati mimpinya, hingga ia dibangunkan oleh alarm yang menunjukkan pukul 3.00.

Ia pun terbangun dan menggunakan sepertiga malam terakhir itu untuk berkhalwat dengan Allah.

Ia bermunajat dan mencurahkan segala yang memenuhi isi kepalanya kepada Rabb yang tiada pernah berhenti memberikan kasih sayang dan pertolongan kepada hamba-Nya.

Beebbeeb… bunyi ponsel dari atas meja, menandakan pesan baru diterima. Bayu yang sedari tadi terpaku memikirkan tentang mimpi aneh nya langsung meraih ponsel itu.

Dari akhi Adam “Assalamualaikum akhi, Afwan mengganggu, ana ada informasi buat antum. Jadi begini, setelah dana yang kita galang minggu lalu sudah cukup terkumpul.

KNRP wilayah P minggu depan akan berangkat ke Palestina untuk menyalurkan dana tersebut. Dan antum bisa ikut, sebelumnya ana minta agar antum datang ke sekre untuk registrasi, syukron.. wassalam..”

Bayu segera bersiap untuk menuju sekre  KNRP.

“Bismillah.. mungkin ini ada kaitannya dengan mimpiku itu” gumam Bayu tertarik dengan tawaran akhi Adam barusan.

Sejak ia bergabung dengan komunitas peduli Palestina itu, ia belum pernah mendapatkan kesempatan untuk pergi langsung ke Palestina.

Dan kesempatan ini, ia tidak ingin mensia-siakan nya. Setelah melakukan registrasi pendaftaran keberangkatan. Bayu pun segera pulang kekampung dan meminta restu agar umi nya ridho dengan keputusannya itu.

“Umi, Bayu tak tau apakah jodoh atau maut yang terlebih dahulu Bayu temui. Untuk itu Bayu mohon umi merestui kepergian Bayu minggu depan.

Umi tak perlu khawatir, bila sudah tiba saatnya dan jika Allah meridhoi Bayu akan wujudkan keinginan umi.

Bayu akan menikah, Bayu akan mendapatkan cintanya bidadari seperti yang umi harapkan.”

Tutur Bayu mencoba merayu uminya yang sebelumnya bersih keras tidak setuju dengan keputusan Bayu.

***

Pagi ini sama seperti pagi-pagi biasanya, tetapi tidak bagi Bayu. Hari ini adalah hari yang ia nantikan, ia akan segera menuju tempat yang dikenal dengan bumi jihad itu.

Setelah semua tim siap dan berkumpul, mereka pun berangkat. Terbang dengan menunggangi burung besi dalam waktu yang entah berapa lama.

Setelah menikmati perjalanan panjang, akhirnya  mereka pun sampai di bumi jihad yang diimpikan itu.

Mereka segera membagikan apa yang telah mereka bawa jauh dari Indonesia kepada anak-anak dan warga pengungsi lainnya.

Dan mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan mereka untuk melindungi warga dari penjajah.

Tanpa ia sadari Air matanya mengalir melihat keceriaan dari wajah polos anak-anak Palestina menyambut kedatangan mereka.

“ Syurga… inilah syurga…” teriak Bayu pada timnya sembari menunjuk kearah anak-anak yang riang gembira itu.

Namun tiba-tiba beberapa peluru dari pada kafir penjajah melesat dengan pesat dan menyarang ditubuhnya, tembakan pertama menembus hatinya.

Tembakan kedua menembus lehernya adapun tembakan ketiga tepat dikepala nya. Langsung saja ia terjatuh terkulai ketanah jihad itu.

Tubuhnya sudah tak berdaya, namun senyum masih terkulum indah dibibirnya. Seakan Allah telah memperlihatkan bagi nya syurga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Darinya mengalir darah, darah merah semerah saga dan tercium pula lah aroma yang harum. Aroma wangi yang tak ada bandingannya di dunia.

Sungguh Allah telah menikahkannya dengan maut. Maut terindah bagi seorang aktivis dakwah, seorang pejuang Dien Allah.

Kini Bayu pun telah menjadi pengantin di bumi jihad itu. Allah telah memilihkan baginya istri dari kalangan bidadari, sebelum ia mendapatkan istri dari manusia.

Senyum itu, yaa senyum itu seakan memberitahukan bahwa Bayu benar-benar telah mendapatkan cintanya bidadari syurga yang dipilihkan Allah untuknya sebagai syuhada.

*Sumber: Kiki (Nama Sahabat Pena) 
Baca Juga :