Saturday, April 17, 2021

Bijak Memilih, Anak dan Orang Tua Tidak Perlu Takut Terlalu Banyak Sekolah

Photo by Adam Winger on Unsplash - 

Ketika ibu memutuskan untuk mengambil posisi penting sebagai Kepala Divisi Kantor, kadang anak-anak menganggap itu adalah sebuah masalah.

Karena, jam kantor orang tuanya akan melebihi jam bersekolah anak.

Lagi pula, beberapa anak mengetahui rahasia dari banyak diskusi yang dilakukan oleh orang tuanya tentang apa yang akan mereka lakukan dengan anak-anak.

Pada akhirnya mereka mendapatkan sebuah solusi, yaitu pergi ke program pendidikan setelah sekolah.

Namun, bukankah itu hal yang bagus?

Di sana anak akan mempelajari hal yang baru, sementara orang tua mereka dengan nyaman bekerja menghasilkan uang.

Anak akan langsung pergi ke kelas lain setelah kegiatan sekolah formal selesai.

Brosur tersebut mengatakan bahwa mereka akan menggunakan kegiatan yang menyenangkan dan metode pengajaran yang inovatif untuk mengisi kekurangan pemahaman anak-anak.

Saya perkirakan, mereka sebagai seorang guru akan menuliskan soal untuk pekerjaan rumah dan anak harus menyalin dan menyelesaikannya.

Ada beberapa kasus di program setelah sekolah, memang inilah yang sering terjadi. Tentu saja, anak-anak terkadang tidak memberi tahu orang tua mereka.

Lalu, bagaimana bisa program itu membantu perkembangan anak?

Mereka hanya pendidik yang telah pintar. Mengantarkan anak-anak ke kelas akan hanya membuat anak menyelesaikan pekerjaan rumah.

Sebagian anak-anak tentu membenci kelasnya. Terdapat juga anak-anak yang merasa bosan, menangis atau bahkan tertidur.

Karena setelah berjam-jam di sekolah, siapa yang ingin menghabiskan waktu sepanjang sore dengan buku pelajaran yang sama?

Tetapi, sebagai seorang anak tentunya tidak punya banyak pilihan dalam hal ini.

Terutama ketika orang tua lain dengan mudahnya memberi tahu anak-anak bahwa gaji ibu yang banyak akan bisa membeli TV atau video game baru.

Maksudnya dengan mengorbankan sebagian waktu, kita akan menangkan beberapa hal.

Kemudian, suatu hari seorang anak berani memutuskan untuk menghindar.

Dia mengatakan bahwa sudah cukup banyak belajar dan menolak untuk pergi ke program setelah sekolah berbasis akademik.

Saat itulah orang tua anak mulai mencium ada sesuatu yang tidak beres.

Tak lama setelah itu, mereka menempatkan anaknya ke dalam program yang lebih baik. Yaitu program pendidikan non akademik.

Kali ini kelasnya lebih besar, lebih cerah dan entah bagaimana lebih menyenangkan.

Di kelas ini juga memiliki beberapa game yang menarik dan peralatan komputer canggih.

Masing-masing dari murid akan mendapat kesempatan untuk melakukan sesuatu di PC mereka. Saat PC baru saja dinyalakan, semangat yang berbeda mulai terasa.

Entah bagaimana, anak-anak berhasil menyelesaikan pekerjaan di kelas dan sebagian lagi tinggal mereka selesaikan di rumah.

Kemudian tibalah waktunya untuk bersenang-senang dan rata-rata anak merasakannya.

Anak-anak tersebut ada yang terlibat dalam kelas akting, pidato, permainan dan tentu saja juga melukis.

Banyak juga waktu belajar yang dihabiskan hanya untuk memercikkan warna pada lembaran-lembaran kanvas.

Sesekali anak menertawakan lelucon konyol yang benar-benar merupakan puncak dari hari yang menyenangkan.

Anehnya, saat dahulu anak-anak malas untuk belajar dan kini mereka mulai menantikan jadwal program setelah sekolah ini.

Setelah bertahun-tahun dilalui, ketika orang tua pergi bekerja dan meninggalkan anaknya di kelas sampai mereka kembali, mereka tahu betapa pentingnya program setelah sekolah ini.

Mungkin cukup sampai di sini kami bahas tentang pengalaman orang tua dan anak dalam program setelah sekolah.

Saya hanya berharap agar bisa terus menyampaikan hal-hal yang akan merubah generasi menjadi lebih baik.

Dan benar, tentu saja akan banyak membahas tentang dunia pendidikan yang menyenangkan.